Menyampaikan Perintah dan Larangan secara Lembut dan Tegas

Sabtu, 23 Maret 2024 10:55

Tulisan ini merupakan kumpulan twit Ustadz Muhammad Fauzil Adhim (@kupinang) tentang pentingnya menyampaikan perintah dan larangan secara lembut dan tegas dalam mendidik anak.

  1. Perintah dan larangan merupakan satu rangkaian penting untuk memandu anak bertindak serta menentukan sikap sehari-hari.
  2. Jika kalimat naratif bermanfaat menyampaikan informasi, maka penggunaan kalimat imperatif bermanfaat untuk membekaskan keyakinan.
  3. Kalimat imperatif berupa perintah maupun larangan lebih menggerakkan perasaan, sehingga memudahkan membangun kesadaran serta keyakinan.
  4. Ayat-ayat Makiyah yang berisi masalah-masalah aqidah, cenderung ringkas, tegas & berbentuk imperatif. Bukan datar dan informatif belaka.
  5. Ayat-ayat Makiyah juga mendorong kepada surga-Nya & bertutur tentang kiamat sebagai hari pembalasan serta menyeru takut terhadap neraka.
  6. Al-Qur’an menunjukkan kepada kita nasehat terbaik orangtua kepada anaknya. Dan nasehat tersebut menggunakan larangan maupun perintah.
  7. Allah Ta’ala bahkan memerintahkan kita untuk memerintah keluarga mendirikan shalat (QS 20:132). Perintah untuk memerintah.
    QS 20:132 
  8. Ini semua memberi pelajaran yang sangat jelas betapa kita perlu menyampaikan perintah maupun larangan tegas sebagai cara mendidik.
  9. Belakangan banyak yang alergi terhadap perintah dan larangan sebagai cara mendidik anak, seolah itu kesalahan terbesar orangtua.
  10. Sebagian bahkan "diperkuat" dengan mitos seolah larangan tidak sesuai dengan cara kerja otak. Sementara perintah memutus syaraf.
  11. Masalahnya adalah, ini bukan lagi sekadar urusan mendidik anak. Lebih dari itu sudah masuk ranah sikap & keyakinan kepada kitabuLlah.
  12. Padahal kita harus yakin bahwa Al-Qur’an sepenuhnya benar, tidak ada keraguan di dalamnya serta berlaku sepanjang masa. Nah.
  13. Kita juga harus tancapkan keyakinan bahwa sebaik-baik perkataan ialah kitabuLlah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah As-Sunnah Ash-Shahihah
  14. Perintah dan larangan memang terasa menakutkan sekaligus menyeramkan tatkala trainer mengkontraskan keduanya dengan cara lain. Kontras.
  15. Kontras memang memudahkan kita melihat perbedaan, tetapi berakibat kita sulit memahami perintah dan larangan secara utuh menyeluruh.
  16. Ketika dikontraskan, perintah & larangan terasa sangat keras, kasar & tak ada kasih-sayang di dalamnya. Padahal larangan pun bisa lembut
  17. Di berbagai training, kerap dikontraskan: "Mandi!!! Jangan kotor!!! Biar badanmu sehat." dengan: "Mandi membuat badanmu sehat."
  18. Teknik penyampaian menggunakan kontras yang terus berulang, akhirnya menjadikan orangtua maupun guru alergi kepada perintah & larangan.
  19. Di beberapa forum, bahkan ada yang secara langsung menyatakan keberatan tatkala saya menukil contoh dari Al-Qur'an maupun hadits shahih.
  20. Ini menandakan bahwa keyakinan terhadap cara "modern" sampai mempengaruhi iltizam (komitmen) serta keyakinannya kepada Al-Qur'an & hadis
  21. Pada saat yang sama menandakan terasingnya sebagian muslimin dari tuntunannya sendiri. Seolah perintah dan larangan pasti kasar & keras.
  22. Ada yang mengajukan sanggahan tentang larangan dengan menyatakan bahwa kata "jangan" dalam Al-Qur'an hanya 360-an. Hanya sekian persen.
  23. Ia lupa memeriksa kata asli bahasa Arab yang bermakna jangan, tidak, selamanya tidak (tak akan pernah) & yang semakna. Ribuan jumlahnya.
  24. Lagi pula, larangan tidak berarti membentak, kasar, kaku dan anti dialog. Coba kita ingat nasehat berisi larangan di surat Luqman.
  25. Larangan tersebut diawali dengan panggilan "Ya Bunayya" yang dalam ungkapan kita, cita bahasanya lebih dekat kepada Wahai Anakku Sayang.
  26. Bayangkan, betapa aneh dan lucunya jika panggilan "Anakku Sayang..." dengan nada mesra beririrng larangan yang membentak.
  27. Yang paling mungkin untuk kita cerna adalah panggilan mesra itu beriring larangan tegas yang disampaikan dengan lemah lembut.
  28. Sesungguhnya tegas itu tidak bertentangan dengan sikap lemah lembut. Sebaliknya, kasar tidak berarti tegas. Ada yang kasar & tidak tegas
  29. Kita lebih mudah membayangkan nasehat Luqman kepada putranya sebagai larangan tegas yang disampaikan dengan lemah lembut.
  30. "Nak, makan segera..." | Terasa kasar ketika kita ungkapkan dengan, "Nak, makan segera!" | Lebih kasar lagi, "Nak!!! Makan!! Segera!!!"
  31. Larangan pun bisa berbeda-beda kesan bagi yang melarang maupun yang dilarang. Lihatlah, betapa luas rentangnya, dari lembut hingga kasar.
  32. Maka, alangkah riskan jika kita senantiasa membuat perbandingan yang kontras antara perintah dan larangan dengan kalimat naratif.
  33. Dampaknya bukan hanya berkait dengan bagaimana mendidik anak. Lebih dari itu berimbas pada sikap seorang muslim terhadap Al-Qur'an.
  34. Padahal Al-Qur'an adalah sebaik-baik perkataan. Tidak ada keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk dan pemberi kabar gembira.
  35. Jelang Dzuhur. Semoga kultwit sederhana ini bermanfaat dan barakah. Semoga Allah Ta'ala baguskan kita, anak-anak kita dan keturunan kita.