Tulisan ini merupakan kumpulan twit Ustadz Muhammad Fauzil Adhim (@kupinang) tentang pentingnya menyampaikan perintah dan larangan secara lembut dan tegas dalam mendidik anak.
- Perintah dan larangan merupakan satu rangkaian penting untuk memandu anak bertindak serta menentukan sikap sehari-hari.
- Jika kalimat naratif bermanfaat menyampaikan informasi, maka penggunaan kalimat imperatif bermanfaat untuk membekaskan keyakinan.
- Kalimat imperatif berupa perintah maupun larangan lebih menggerakkan perasaan, sehingga memudahkan membangun kesadaran serta keyakinan.
- Ayat-ayat Makiyah yang berisi masalah-masalah aqidah, cenderung ringkas, tegas & berbentuk imperatif. Bukan datar dan informatif belaka.
- Ayat-ayat Makiyah juga mendorong kepada surga-Nya & bertutur tentang kiamat sebagai hari pembalasan serta menyeru takut terhadap neraka.
- Al-Qur’an menunjukkan kepada kita nasehat terbaik orangtua kepada anaknya. Dan nasehat tersebut menggunakan larangan maupun perintah.
- Allah Ta’ala bahkan memerintahkan kita untuk memerintah keluarga mendirikan shalat (QS 20:132). Perintah untuk memerintah.
- Ini semua memberi pelajaran yang sangat jelas betapa kita perlu menyampaikan perintah maupun larangan tegas sebagai cara mendidik.
- Belakangan banyak yang alergi terhadap perintah dan larangan sebagai cara mendidik anak, seolah itu kesalahan terbesar orangtua.
- Sebagian bahkan "diperkuat" dengan mitos seolah larangan tidak sesuai dengan cara kerja otak. Sementara perintah memutus syaraf.
- Masalahnya adalah, ini bukan lagi sekadar urusan mendidik anak. Lebih dari itu sudah masuk ranah sikap & keyakinan kepada kitabuLlah.
- Padahal kita harus yakin bahwa Al-Qur’an sepenuhnya benar, tidak ada keraguan di dalamnya serta berlaku sepanjang masa. Nah.
- Kita juga harus tancapkan keyakinan bahwa sebaik-baik perkataan ialah kitabuLlah. Dan sebaik-baik petunjuk adalah As-Sunnah Ash-Shahihah
- Perintah dan larangan memang terasa menakutkan sekaligus menyeramkan tatkala trainer mengkontraskan keduanya dengan cara lain. Kontras.
- Kontras memang memudahkan kita melihat perbedaan, tetapi berakibat kita sulit memahami perintah dan larangan secara utuh menyeluruh.
- Ketika dikontraskan, perintah & larangan terasa sangat keras, kasar & tak ada kasih-sayang di dalamnya. Padahal larangan pun bisa lembut
- Di berbagai training, kerap dikontraskan: "Mandi!!! Jangan kotor!!! Biar badanmu sehat." dengan: "Mandi membuat badanmu sehat."
- Teknik penyampaian menggunakan kontras yang terus berulang, akhirnya menjadikan orangtua maupun guru alergi kepada perintah & larangan.
- Di beberapa forum, bahkan ada yang secara langsung menyatakan keberatan tatkala saya menukil contoh dari Al-Qur'an maupun hadits shahih.
- Ini menandakan bahwa keyakinan terhadap cara "modern" sampai mempengaruhi iltizam (komitmen) serta keyakinannya kepada Al-Qur'an & hadis
- Pada saat yang sama menandakan terasingnya sebagian muslimin dari tuntunannya sendiri. Seolah perintah dan larangan pasti kasar & keras.
- Ada yang mengajukan sanggahan tentang larangan dengan menyatakan bahwa kata "jangan" dalam Al-Qur'an hanya 360-an. Hanya sekian persen.
- Ia lupa memeriksa kata asli bahasa Arab yang bermakna jangan, tidak, selamanya tidak (tak akan pernah) & yang semakna. Ribuan jumlahnya.
- Lagi pula, larangan tidak berarti membentak, kasar, kaku dan anti dialog. Coba kita ingat nasehat berisi larangan di surat Luqman.
- Larangan tersebut diawali dengan panggilan "Ya Bunayya" yang dalam ungkapan kita, cita bahasanya lebih dekat kepada Wahai Anakku Sayang.
- Bayangkan, betapa aneh dan lucunya jika panggilan "Anakku Sayang..." dengan nada mesra beririrng larangan yang membentak.
- Yang paling mungkin untuk kita cerna adalah panggilan mesra itu beriring larangan tegas yang disampaikan dengan lemah lembut.
- Sesungguhnya tegas itu tidak bertentangan dengan sikap lemah lembut. Sebaliknya, kasar tidak berarti tegas. Ada yang kasar & tidak tegas
- Kita lebih mudah membayangkan nasehat Luqman kepada putranya sebagai larangan tegas yang disampaikan dengan lemah lembut.
- "Nak, makan segera..." | Terasa kasar ketika kita ungkapkan dengan, "Nak, makan segera!" | Lebih kasar lagi, "Nak!!! Makan!! Segera!!!"
- Larangan pun bisa berbeda-beda kesan bagi yang melarang maupun yang dilarang. Lihatlah, betapa luas rentangnya, dari lembut hingga kasar.
- Maka, alangkah riskan jika kita senantiasa membuat perbandingan yang kontras antara perintah dan larangan dengan kalimat naratif.
- Dampaknya bukan hanya berkait dengan bagaimana mendidik anak. Lebih dari itu berimbas pada sikap seorang muslim terhadap Al-Qur'an.
- Padahal Al-Qur'an adalah sebaik-baik perkataan. Tidak ada keraguan di dalamnya. Ia adalah petunjuk dan pemberi kabar gembira.
- Jelang Dzuhur. Semoga kultwit sederhana ini bermanfaat dan barakah. Semoga Allah Ta'ala baguskan kita, anak-anak kita dan keturunan kita.